Tetap Fokus dan Berjaga-Jaga

Minggu Adven I/Tahun C:

Yer. 33:14-16; Mzm. 25:4bc-5ab,8-9,10,14; 1Tes. 3:12-4:2; Luk. 21:25-28,34-36.

Hari ini, Gereja Katolik secara resmi memasuki tahun liturgi baru yang dimulai dengan perayaan Minggu Adven pertama. Kata “Adven” sendiri berasal daribahasa Latin, yakni “Adventus” atau “Advenire”, yang artinya “kedatangan”. Sebagai momen penantian, Masa Adven berkaitan dengan penantian kita akan kedatangan Kristus di tengah dunia. Sesungguhnya, Kristus telah datang ke dunia dan akan datang kembali di akhir zaman; namun Dia tidak pernah meninggalkan kita dan selalu hadir di tengah-tengah umat-Nya. Masa Adven sejatinya menggarisbawahi tiga aspek penting, yakni peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiran-Nya di setiap hati umat beriman, dan penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Dengan demikian, Masa Adven menjadi sebuah momen pengharapan — harapan bahwa Putra tunggal Allah akan datang ke dunia dan tinggal di antara kita. Lantas, sebagai sebuah momen persiapan untuk menerima kedatangan Kristus, Masa Adven hendaknya juga merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk memurnikan diri dengan membina sikap tobat dan memperbaiki cara hidup.

Bacaan-bacaan suci pada hari Minggu Adven pertama ini menggarisbawahi sebuah peringatan bagaimana seharusnya kita bersiap-siap untuk menerima kedatangan Kristus; peringatan untuk waspada, penuh perhatian dan persiapan. Dalam bacaan pertama, Nabi Yeremia meyakinkan kita bahwa Tuhan akan memenuhi janji-janji-Nya dan nantinya Tuhan “akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran” (Yer 33:15). Dengannya, kita seharusnya tidak perlu takut meskipun ada begitu banyak cobaan dan kesulitan yang menakutkan di sekeliling kita.
Dalam bacaan kedua, Santo Paulus memberikan beberapa petunjuk bagaimana kita harus menantikan “kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya” (1 Tes 3:13). Di sini, Paulus menasehati agar “menguatkan hatimu” (3:13). ) dan “berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang” (3:12). Bagi beberapa orang, menunggu sering dianggap sebagai hal yang paling membosankan, terutama ketika ketidaksabaran menghantui. Dalam menunggu, kita perlu bersabar dan tetap fokus. Dalam menunggu kedatangan Kristus, kita harus bersikap rendah hati; toh! Tuhan sendirilah yang berjanji untuk datang dan tinggal di antara kita.
Penginjil Lukas, kemudian, menyoroti salah satu aspek lain dari Adven yaitu berwaspada. Yesus mengingatkan kita untuk: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi” (Luk 21:34) dan “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa” (Luk 21:36). Yesus mendesak kita untuk menghadapi sesuatu dengan penuh iman dan meletakkan harapan kepada rencana Ilahi, karena kecemasan yang berlebihan dapat mengalihkan perhatian kita dari fokus untuk menantikan kedatangan-Nya dan untuk menerima Dia. Toh! Yesus memberi kita jaminan bahwa tidak peduli apa pun yang akan terjadi di masa depan, Dia akan hadir dan memperhatikan kita. Selama masa penantian akan kedatangan Kristus ini, hal yang paling konkret kita bisa lakukan ialah untuk membuka diri terhadap kedatangan Tuhan, khususnya melalui kehadiran orang-orang lain, dalam kehidupan sehari-hari.

Para sahabat terkasih, apa pesan penting yang perlu kita renungkan selama memasuki Masa Adven ini? Ingatlah! Pusat perhatian kita ialah penantian akan kedatangan Yesus, karena itu persiapan batin lebih penting daripada persiapan yang lain. Boleh-boleh saja kita mempersiapkan hal-hal, seperti baju baru, pangkas rambut, atau mempersiapkan lagu-lagu terkeren; namun yang terpenting ialah mempersiapkan hati. Hendaknya, selama Masa Adven ini, kita membuka hati dan membiarkan Dia yang akan datang dilahirkan kembali dalam hati kita. Marilah kita menjadikan Masa Adven ini sebagai suatu kesempatan untuk bertobat dengan memperbarui pola hidup, membina sikap doa dan membagikan rejeki kita kepada satu sama lain. Mari kita menjadikan Adven ini sebagai kesempatan untuk melihat ke dalam diri apa yang perlu dilakukan dan melihat hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain. Kita memohon rahmat Tuhan supaya Masa Adven ini menjadi ungkapan iman dari kerinduan kita yang terdalam, penantian yang penuh pengharapan dan keyakinan yang utuh kepada Tuhan Yesus yang telah datang dan berdiam di antara kita dan yang akan datang lagi untuk memberi kita kepenuhan hidup. Hendaklah kita tidak boleh hilang fokus, tetapi teruslah berjaga-jaga.
“Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat” (Luk 21:28).

Tuhan,
sebentar lagi Engkau datang dan tinggal di antara kami;
Demi janji-Mu yang tak terbatalkan itu,
lapangkanlah niat kami;
semoga kami menyambut Engkau
bukan dengan pesta pora dan musik denting,
namun iman yang mantap dan tahan banting.

Advertisements

Jangan Malu dan Merasa Jenuh

Pelita Iman: Why. 1:1-4; 2:1-5a; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 18:35-43

19 November 2018

“Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”
Jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!”
(Lukas 18:41)

Percakapan antara Yesus dan si pengemis buta di atas sangatlah penting untuk dicermati lebih dalam.
Barangkali, hati kecil kita bertanya: Mengapa Yesus bertanya kepada pengemis itu apa yang sesungguhnya sudah begitu jelas?
Dialog singkat yang interaktif di atas sesungguhnya mengajarkan kita tentang apa itu doa-doa permohonan dan bagaimana Tuhan menanggapinya. Kita semua tahu, setiap doa merupakan momen perjumpaan dan percakapan dengan Tuhan yang telah menciptakan kita. Dan, Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan bahkan sebelum kita menyampaikan kepada-Nya. Namun, karena Tuhan menghargai kebebasan kita, Ia senantiasa ingin supaya kita harus menyampaikan secara jelas dan jujur apa yang paling kita inginkan supaya kita bisa menerima Rahmat sesuai yang kita sangat butuhkan dan yang hendak Tuhan berikan. Nah! Inilah makna terdalam dari dialog interaktif antara Yesus dan si pengemis buta di atas.
Sejatinya, apa yang terjadi di dalam setiap doa kita adalah pencerahan dan peneguhan kehendak dan harapan: harapan kita akan Rahmat Tuhan dan kehendak Tuhan sendiri. Kita harus yakin bahwa Tuhan tidak pernah menolak setiap permintaan kita.
Keinginan dan harapan kita semestinya ditempatkan dalam korelasi dengan tujuan dan recana Ilahi, iman adalah konteks di mana semua ini terjadi.
Berdoalah kepada Tuhan agar Ia mencurahkan Roh Kudus ke atas kita semua untuk membantu kita dalam memohon setiap apa yang dibutuhkan dan untuk dengan penuh iman menempatkan segala keluh-kesah kita dalam tangan-Nya.

Jangan pernah merasa malu dan jenuh untuk meminta!

Kuatkan Keyakinanmu!

Pelita Iman: Dan. 12:1-3; Mzm. 16:5,8,9-10,11; Ibr. 10:11-14,18; Mrk. 13:24-32

18 November 2018

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu”
(Markus 13:31)

Penderitaan, kegagalan, dan kematian orang-orang tercinta hendaknya tidak membuat kita menjadi takut dan sedih yang berkepanjangan. Ketahuilah bahwa penderitaan dan kegagalan yang kita alami atau pun kematian tidak akan pernah menghapus dan meniadakan cinta Allah dari tengah-tengah kita. Allah mencintai kita tanpa memperhitungkan batas waktu.
Karena itu, hal yang paling penting kita lakukan ialah untuk menguatkan keyakinan kita kepada Allah. Kita harus teguh dalam iman, setia dalam pengharapan dan kokoh dalam kasih di dalam segala aspek kehidupan kita. Lantas, bagaimana hal itu akan kita lakukan? Agar teguh dalam iman, setia dalam pengharapan, dan kokoh dalam kasih; kita perlu bersiap-siaga, tekun dalam doa dan tak jemu melayani sesama.
Maka itu, jangan pernah menyerah dan takut bila dirundung masalah; teguhkanlah imanmu dan taruhlah harapan pada kasih Allah yang agung.

Kuatkan keyakinanmu pada Allah!

Do Your Best and Let God Do the Rest

Pelita Iman : 2 Yoh. 4-9; Mzm. 119:1,2,10,11,17,18; Luk. 17:26-37

16 November 2018

“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya,
dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.”
(Lukas 17:33)

Barangkali, kamu menganggap pernyataan ini sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan sangat bertentangan dengan pandangan dan mungkin pengalaman kebanyakan orang. Bayangkan! Bila kamu ingin melindungi dirimu, kamu harus juga mengorbankan nyawamu sendiri.
Nah! Jangan menyerah! Coba kita renungkan baik-baik pernyataan Yesus di atas.
Melalui pernyataan di atas, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa jika kita mengarahkan hidup dan masa depan kita dengan hanya mengandalkan usaha kita sendiri, segalanya tidak akan berhasil dengan baik. Melalui undangan untuk “mengorbankan” nyawa kita, Yesus mengajarkan bahwa dalam situasi tertentu kita harus menyerahkan diri dan mengandalkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Kita harus membiarkan Tuhan untuk mengarahkan segala sesuatunya dan menuntun kita menuju kehendak-Nya yang paling kudus. Saya yakin, inilah satu-satunya cara termulia dalam menyelamatkan hidup kita. Sejatinya, Tuhan selalu mempunyai rencana termulia bagi anak-anakNya. Kita harus berani melepaskan keinginan kita sendiri dan membiarkan Tuhan yang mengambil alih dan bekerja di dalamnya.
Lebih lanjut, kita mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang paling sulit untuk dilakukan. Tetapi jika kita dapat melakukan hal itu, kita justru akan tahu bahwa cara dan rencana Allah untuk hidup kita jauh lebih baik daripada yang dapat kita capai sendiri.
Kebijaksanaan Allah jauh lebih agung melampaui kemampuan manusiawi kita. Kuasa-Nya jauh lebih sempurna melampaui segala persoalan yang kita hadapi.
Renungkanlah! Seberapa gereget dan siapkah kamu untuk memberikan kendali penuh atas hidupmu kepada kuasa dan belaskasihan Allah? Apakah juga kamu cukup percaya kepada-Nya untuk membiarkan Dia mengambil kendali atas hidupmu? Jangan menyerah.

Do your best and let God do the rest!

Santo Oscar Romero, Uskup Pembela Kaum Miskin

“We must overturn so many idols, the idol of self first of all, so that we can be humble, and only from our humility can learn to be redeemers, can learn to work together in the way the world really needs. Liberation that raises a cry against others is no true liberation. Liberation that means revolutions of hate and violence and takes away lives of others or abases the dignity of others cannot be true liberty. True liberty does violence to self and, like Christ, who disregarded that he was sovereign becomes a slave to serve others.”
(St. Oscar Romero)

Romero

Uskup Oscar Romero, atau nama lengkapnya Óscar Arnulfo Romero y Galdámez, dilahirkan pada tanggal 15 Agustus 1917 di Ciudad-El Salvador. Selama menduduki takhta Keuskupan Agung, Uskup Romero sangat vokal dalam mengkritisi tindakan kekerasan terhadap rakyat kecil oleh rezim yang berkuasa. Beliau dikenal sebagai pelindung dan pembela orang-orang miskin dan kaum tertindas di El Salvador. Lantas, pada tanggal 24 Maret 1980, Uskup Romero dibunuh dan ditembak ketika beliau sedang memimpin Perayaan Ekaristi di Kapela Rumah Sakit Kanker Divine Providence. Sebagai seorang Uskup Agung, Uskup Romero dikenal sebagai gembala yang sangat dihormati dan dicintai oleh domba-dombanya.

Pada 23 Maret 1980, Romero menyerukan agar tentara El Salvador kembali ke diri mereka sebagai manusia, merenungkan kembali perintah Tuhan dan berhenti mematuhi perintah atasan untuk melakukan kekerasan dan pelanggaran HAM. Keesokan harinya, selesai menggelar misa di sebuah kapela kecil Romero ditembak mati oleh orang suruhan pemerintah. Tak seorang pun pernah ditangkap atas kejahatan ini.
Romero adalah juga bagian dari gerakan lebih besar “Teologi Pembebasan” yang mengharu-biru Amerika Latin sejak 1960-an. Meski Teologi Pembebasan sendiri tidak tunggal dan ada berbagai penafsiran atasnya, tetapi bisa dibilang pada dasarnya ia adalah paduan antara Teologi Kristiani dengan analisis sosial-politik Marxis yang memberi penekanan pada masalah kemiskinan dan pembebasan politik rakyat tertindas.

Pada tanggal 3 Februari 2015, Uskup Oscar Romero dinyatakan dan diakui secara resmi sebagai seorang martir Gereja oleh Paus Fransiskus dan kemudian dibeatifikasi pada tanggal 23 Mei 2015. Lebih dari itu, Paus Fransiskus juga akan mengkanonisasi Uskup Romero pada Minggu, 14 Oktober 2018, di Lapangan St. Petrus-Vatikan bersama dengan Paus Paulus VI dan lima orang kudus lainnya.

St. Oscar Romero, doakanlah kami!

Santo Paulus VI, Paus Pewartaan

“The world calls for, and expects from us, simplicity of life, the spirit of prayer, charity towards all, especially towards the lowly and the poor, obedience and humility, detachment, and self-sacrifice. Without this mark of holiness, our word will have difficulty in touching the heart of modern man.”
(St. Paul VI)

paul6

Paus Paulus VI, atau nama aslinya Giovanni Battista Enrico Antonio Maria Montini, dilahirkan pada tanggal 26 September 1897 di Concesio, dekat Brescia-Italia dan wafat pada tanggal 6 Agustus 1978 di Castel Gandolfo-Vatikan setelah menduduki Takhta Suci kepausan selama 15 tahun. Konon, masa pontifikalnya dihadapi oleh pelbagai macam tantangan dan persoalan, secara khusus tantangan Gereja dalam perannya di tengah dunia. Salah satu keputusan terbesar setelah pemilihan Paulus VI menjadi Paus ialah keputusan untuk melanjutkan Konsili Vatikan II kendati secara hukum kanonik bahwa konsili akan diberhentikan pada kematian seorang paus.

Selama masa pontifikalnya, selain melanjutkan visi pembaharuan Gereja dari Paus Yohanes XXIII dan menyukseskan kelanjutan Konsili Vatikan II yang sempat berhenti karena wafatnya Paus Yohanes XXIII, Paus Paulus VI membuat beberapa gebrakan baru dalam tubuh gereja, secara khusus dalam hubungannya dengan dunia modern. Pada tahun 1965, Paus Paulus VI menginisiasi adanya Sinode Para Uskup, yang secara khusus membahas tentang bagaimana seharusnya Gereja membaca dan mengintepretasikan tanda-tanda zaman. Pada tahun 1964, beliau membentuk sebuah kantor Sekretariat untuk Non-Kristen di Vatikan (Sejak tahun 1988 diubah menjadi Pontifical Council untuk Dialog Antaragama). Lebih dari itu, Paus Paulus VI menginisiasi adanya perjalanan apostolik Bapa Paus ke berbagai negara di dunia. Pada Januari 1964, Paulus VI memulai perjalanan apostoliknya dengan berziarah ke Tanah Suci. Pada tahun 1964 dan 1967, Paulus VI para Patriach Ortodhox di Yerusalem dan Konstantinopel. Beliau merupakan paus pertama sejak abad IX yang mengunjungi wilayah Gereja Timur dan menyebut Gereja-Gereja Timus sebagai Sister Churches. Beliau juga adalah Paus pertama yang mengadakan pertemuan secara khusus dengan berbagai pemimpin Gereja Ortodhox Timur, khususnya pertemuan dengan Patriarch Athenagoras I tahun 1964 di Yerusalem yang justru membawa perubahan besar dalam hubungan Gereja Barat dan Timur pasca perpecahan dalam skisma besar tahun 1054. Lebih daripada itu, Paulus VI juga merupakan Paus pertama yang mengunjungi benua Asia.

Selanjutnya, sebagai paus pewartaan, Paulus VI selalu dikenang karena salah satu eksortasi apostoliknya, yakni Evangelii Nuntiandi (1975), yang secara khusus merenungkan dan membahas tentang misi pewartaan Gereja. Bagi Paulus VI, “Pewartaan, faktanya, adalah rahmat dan panggilan yang disematkan kepada Gereja, identitasnya yang terdalam. Dia ada untuk mewartakan” (EN #14) dan “Untuk Gereja, pewartaan berarti membawa Kabar Gembira kepada semua kelompok umat manusia” (EN #18). Selain mengeluarkan eksortasi apostolik, Paulus VI juga menuliskan begitu banyak ensiklik. Salah satu ensiklik dari Paulus VI yang cukup terkenal ialah Humane Vitae (1968), yang secara khusus menegaskan kembali ajaran tradisional Gereja mengenai aborsi, kontrasepsi dan masalah-masalah lainyang berhubungan dengan kehidupan manusia. Menariknya, karena pelarangan terhadap segala bentuk kontrasepsi buatan, ensiklik ini selalu menjadi hal yang kontroversial.

Pada tanggal 19 Oktober 2014, Paus Paulus VI dibeatifikasi oleh Paus Fransiskus di Lapangan St. Petrus-Vatikan. Lebih dari itu, Paus Fransiskus akan mengkanonisasi Paus Paulus VI pada Minggu, 14 Oktober 2018, di Lapangan St. Petrus-Vatikan bersama dengan Uskup Oscar Romero dan lima orang kudus lainnya.

St. Paulus VI, doakanlah kami!

Jangan Lupa Asas ‘Luber’ dan ‘Jurdil’

Euphoria masyarakat Indonesia menyongsong Pilkada serentak yang akan diadakan pada tanggal 27 Juni 2018 semakin tinggi dan menggebu-gebu. Ada beberapa oknum yang berlomba-lomba mempromosikan visi dan misi pasangan calon pempimpin yang diunggulkan. Dan, tidak jarang juga beberapa oknum yang ‘dengan keras’ melontarkan cemoohan yang seakan-akan menyerang pasangan calon lawan. Hal itu bisa dilihat dan dibaca dengan jelas pada beberapa ‘postingan’ di media sosial, seperti Facebook, Twitter dan sebagainya. Lebih menariknya lagi, menjelang hari-H ada yang dinamakan serangan fajar. Ada yang berkunjung dari rumah ke rumah membagi-bagi tip alias uang rokok, katanya. Toh! Kita tidak perlu menyangkal bahwa dalam prakteknya politik itu tidak pernah luput dari apa yang disebut sebagai tindakan menghalalkan segala cara. Ada oknum-oknum tertentu yang dengan sekuat tenaga dan cara yang unik berusaha untuk menarik hati insan politik (baca: para pemilih) demi meraih kemenangan. Tapi, kita perlu merenungkannya secara matang, guys! Kita tidak boleh terperangkap dalam gombalan-gombalan manis oknum-oknum tersebut.
Toh! Ingatlah. Di atas tindakan yang menghalalkan segala cara tersebut masih ada asas yang paling halal dan mulia pemilihan umum di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Asas yang paling halal dan mulia dimaksud ialah asas Luber dan Jurdil. Hemat saya, asas tersebut merupakan sesuatu yang mutlak perlu dan harga mati dalam praktik demokrasi di Indonesia. Secara historis, setelah amandemen keempat UUD 1945 pada tahun 2002, Pemilihan Umum (Pemilu), khususnya pemilihan presiden dan wakil presiden yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat. Lantas, pemilihan langsung tersebut pertama kali diadakan pada Pemilu 2004. Lebih jauh, pada tahun 2007, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (Pilkada) juga dilakukan langsung oleh rakyat. Selanjutnya, pemilihan langsung dan demokratis tersebut diatur dalam Pasal 1 UU No.8 Tahun 2015 tentang perubahan atas UU No.1 tahun 2015 mengenai penetapan peraturan pemerintah yang mana menggantikan UU No.1 tahun 2014 tentang pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang. Selain itu, Undang-Undang tersebut mengalami perubahan yang kemudian menjadi UU No.10 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No.1 tahun 2015 tersebut di atas. Dalam perkembangannya, pada tahun 2017, UU nomor 22 Tahun 2007 yang disebutkan di atas kemudian dicabut dan dinyatakan tidak berlaku dan diganti dengan Undang-Undang terbaru, yakni UU No.7 tahun 2017 yang secara khusus mengatur tentang Pemilihan Umum. Sejak adanya pemilihan yang bersifat langsung ini, asas Pemilu tersebut di atas pun mulai dipraktikkan dengan baik dan secara jelas. Toh! Walaupun dalam praktiknya acapkali ditemukan penyelewengan.

Apa yang dimaksud dengan asas ‘Luber’ dan ‘Jurdil’?
Sejak zaman Orde Baru, Pemilihan Umum di Indonesia menganut asas ‘Luber.’ Saya yakin, sesama saudara yang lahir sebelum Era Reformasi pastinya sangat akrab dengan asas ini. Paling tidak, seperti kata Theodorus, orang itu pastinya sudah sukses dan sudah menikah. Apa itu asas Luber’? ‘Luber’ merupakan singkatan dari Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia.
Langsung berarti setiap pemilih diharuskan untuk memberikan suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakili. Umum berarti pemilihan umum dapat diikuti oleh seluruh warga negara yang sudah memiliki hak menggunakan pilih. Bebas berarti setiap pemilih diharuskan untuk menggunakan hak suaranya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Sedangkan, asas Rahasia mengindikasikan bahwa suara yang diberikan oleh pemilih bersifat rahasia dan hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri.
Lebih jauh, sejak Era Reformasi asas ‘Jurdil’ mulai dikembangkan. ‘Jurdil’ merupakan singkatan dari ‘Jujur’ dan ‘Adil.’ Pertama-tama, asas Jujur menekankan bahwa setiap proses pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang memiliki hak dapat memilih sesuai dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. Sementara itu, asas Adil mengindikasikan perlakuan yang setara dan sama terhadap setiap peserta Pemilu dan pemilih, tanpa ada pengistimewaan ataupun diskriminasi. Beberapa orang beranggapan bahwa dua asas terakhir ini berkesan mengikat tidak hanya kepada pemilih ataupun peserta Pemilu, tetapi juga penyelenggara Pemilu.
Berhadapan dengan fenomena serangan fajar dan ‘black campaign’ dan seraya mempertimbangkan asas pemilihan umum di atas, maka menjelang pemilihan kepada daerah yang serempak itu, kita diajak untuk merenungkannya secara matang dan tidak boleh melupakannya begitu saja. Hal ini sangat penting untuk kemajuan daerah kita masing-masing. Pilihlah seorang pemimpin yang sesuai dengan suara hati kita masing-masing, namun jangan terpengaruh oleh gombalan-gombalan manis dari oknum-oknum tertentu. Akhirnya, saya mengutip gagasan cermelang dari Rm. Franz Magnis Suseno, SJ bahwa “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.”
Selamat memilih. Jangan lupa asas ‘Luber’ dan ‘Jurdil.’

Sebab Telah Kupilih Untuk Diam Dalam Sunyi