Pelita

Pribadi Welas Asih

Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: “Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?” Tetapi ia berkata: “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.”
(Matius 13:28-30)


Entah disadari atau tidak! Dalam kehidupan sehari-hari, kita memiliki kecenderungan untuk mengelompokkan sesama di sekitar, yakni: kelompok yang dianggap sebagai “gandum” ialah orang-orang yang punya pengaruh baik (entah karena status sosial ataupun karena prestasinya), dan kedua ialah kelompok “ilalang” yang merupakan orang-orang yang tidak dipandang baik, tidak diperhitungkan, dan dikucilkan oleh masyarakat (mungkin karena perilaku hidupnya ataupun karena kedudukan sosialnya). Akibatnya, timbullah berbagai persoalan sosial, seperti: rasisme, ketidakadilan politik, intoleransi agama dan budaya.

Sikap apatis dan pengabaian seperti inilah yang terjadi pada para pekerja dalam perumpamaan tentang ilalang di antara tanaman gandum (Bdk. Mt 13:24-43). Mereka berusaha meyakinkan si tuan kebun dengan penilaian mereka: “Jadi maukah tuan supaya kami pergi cabut ilalang itu?” Alasan untuk mengabaikan mereka yang dianggap sebagai “kelompok ilalang” ialah kepongahan bahwa orang yang termasuk dalam kelompok “gandum” merupakan orang-orang terbaik, paling benar, dan berguna bagi masyarakatnya. Di luar itu, semua harus mengikuti kemauan mereka; jika tidak maka akan dikucilkan, diabaikan dan dicemoohkan.

Akan tetapi, sikap si tuan pemilik kebun gandum, yang melarang para hambanya untuk mencabut ilalang yang sedang bertumbuh itu, menyadarkan kita tentang jalan pikiran Allah bagi manusia. Kita yakin bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang sabar, penuh kasih setia, dan yang selalu memberi kita kesempatan untuk mengubah sikap dan pola buruk kita.

Di sini, Yesus mau menegaskan bahwa jalan pikiran Allah itu bukan sebuah jalan penghancuran, pengabaian dan pilah-memilah; namun jalan pikiran Allah itu penuh cinta dan merangkul semua tanpa syarat. Apapun kekurangan dan kelemahan kita, Allah selalu menawarkan rahmat dan belas kasih-Nya secara cuma-cuma. Ia selalu memberi kita kesempatan untuk kembali kepada jalan keselamatan-Nya.

Semoga kesabaran dan belas kasihan si tuan kebun terhadap ilalang mampu mencubit kesadaran kita untuk menolak sikap apatis, intoleransi, balas dendam dan acuh tak acuh dalam hubungan kita dengan sesama di sekitar. Dengan itu, kita sungguh-sungguh menjadi gambar wajah Allah yang penuh kasih setia, panjang sabar dan selalu menanamkan sikap saling mengampuni. Kristus sendiri telah mengajarkan kita untuk saling mengampuni bukan hanya tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s