Pelita

Asyiknya Berbagi dari Kekurangan

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata:
“Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.”
Tetapi Yesus berkata kepada mereka:
“Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.

(Matius 14:15-16)

Dalam minggu-minggu terakhir, Yesus menyampaikan dalam banyak perumpamaan mengenai realitas Kerajaan Allah, sebuah kerajaan yang penuh pengampunan dan berlimpah kasih setia. Selanjutnya, dalam konteks perjamuan, sebagaimana dinarasikan penginjil Matius (Mt 14:13-21), Yesus memberi teladan perwujudan kerajaan yang berlimpah cinta dan kasih setia itu di tengah dunia. Perjamuan, dalam tradisi Yahudi, dipandang sebagai kesempatan pertemuan dan persaudaraan; di mana para tetamu menjalin ikatan keakraban dan persaudaraan. Lantas, melalui aksi memberi makan lima ribu orang itu, Yesus mau menekankan bahwa tanda perwujudan kerajaan Allah di tengah dunia ialah keterbukaan kepada kehendak Allah dan mau berbagi dengan sesama yang lain. Dengan cara inilah, anggota-anggota komunitas Kerajaan akan luput dari ikatan keegoisan dan ketidakpedulian, dan memperoleh kebebasan dari cinta dan belas kasihan.

Merenung lebih jauh aksi Yesus ini, pertama-tama kita perlu melihat bagaimana tanggapan para murid terhadap situasi yang sedang terjadi? Di hadapan mereka ada banyak orang yang mengikuti Yesus dan tidak tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan mereka. Bayangkan! Dalam narasi Matius, “Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak” (Mt 14:21). Apalagi mereka hanya mempunyai lima roti dan dua ikan. Karena itu, mereka berusaha menghindar dengan menyarankan kepada Yesus—dalam pandang mereka—sebuah solusi praktis: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Solusi macam ini tidak membutuhkan usaha apa pun. Namun, Yesus memiliki cara berbeda dalam menghadapi situasi ini. Bagi Yesus, solusinya bukan dengan mengirimkan orang banyak itu pergi begitu saja, tetapi dengan berbagi: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Toh! Pada akhirnya sebuah mukjizat terjadi. Makanan berlimpah—yang awalnya hanya berupa lima roti dan dua ikan—sehingga semua yang ikut dalam perjamuan itu puas, dan bahkan sisa-sisanya berjumlah dua belas bakul penuh.

Dengan cara ini, Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana solidaritas memberi pengaruh luar biasa dan mampu mengatasi kondisi sulit yang diderita begitu banyak orang di sekitar. Solidaritas tidak hanya dengan memberi sekeping koin atau pakaian-pakaian bekas kepada pengemis dan kepada mereka yang datang mengetuk pintu rumah-rumah kita. Tetapi, sikap solider juga menuntut kita untuk mendedikasikan sebagian waktu kita bagi mereka yang kesepian, yang membutuhkan kata-kata penghiburan dan yang tidak bisa bersuara di tengah sistem kehidupan yang pongah. Untuk bersolider dan berbagi, kita tidak perlu menjadi kaya. Kita semua, entah miskin atau kaya, dapat bersolider atas nama mereka yang paling membutuhkan dan tidak diperhatikan. Dengan ini, Yesus mengajar kita bahwa segala sesuatu yang adalah hadiah karunia kasih Allah yang tiada tara mestinya juga dapat dibagikan dan digunakan untuk melayani sesama. Dalam segala kekurangan yang kita miliki, aksi berbagi mesti selalu menjadi mungkin dan tanpa jarak.

Akhirnya, mukjizat penggandaan roti sesungguhnya terwujud nyata di tengah-tengah kita setiap kali merayakan Perjamuan Ekaristi. Perjamuan Ekaristi adalah sumber kekuatan utama bagi seorang Kristiani untuk hidup bersama dan berbagi dengan yang lain, dalam amal kasih yang diteladani Kristus sendiri. Dan sebagaimana kita kembali ke kehidupan harian, mestinya ingat bahwa pernyataan “Marilah pergi dan kita semua diutus!” yang diucapkan oleh imam pada akhir Perayaan Ekaristi merupakan sebuah panggilan untuk menjangkau semua orang dan berbagi dengan mereka meski dari kekurangan yang kita miliki.

Semoga kesaksian iman dan semangat solidaritas kita menjadi sumber kehidupan bagi sesama yang membutuhkan! “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (Mt. 14:16).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s