Pelita

Bersama Tuhan Kita tidak Tenggelam

Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.
Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

(Matius 14:26-27)

Pengalaman ketakutan menghadapi berbagai gejala alam merupakan pengalaman paling akrab dengan kehidupan umat manusia. Siapa yang tidak takut pada guncangan hebat gempa bumi, tsunami atau badai? Sejak beberapa bulan yang lalu, wabah Covid-19 mengejutkan dunia seperti badai yang mengguncangkan perahu para murid, sementara Yesus tidur dengan damai (bdk. Mrk 4:35-41). Kita pun tentunya gampang memahami perasaan takut para murid Yesus, ketika di tengah badai, pada malam yang gelap, mereka melihat makhluk misterius berjalan di atas air—yang mereka anggap sebagai hantu.

Dalam Injil Minggu ini, Penginjil Matius juga mengisahkan hal yang serupa, meskipun ada perbedaan yang cukup mencolok dengan narasi Markus (Bdk. Mat 14:22-33). Dalam narasi Matius, pada waktu itu para murid sedang sendirian. Konon, mereka melaut setelah peristiwa penggandaan roti dan sementara Yesus sedang pergi ke gunung untuk berdoa. Ketika itu, angin sakal bertiup melawan perahu mereka hingga terombang-ambing. Di tengah kesulitan yang kita alami, di mana kita teruji dan sering kali mengganggap Yesus sebagai hantu, sesungguhnya yang kurang adalah iman.

Kita tahu bahwa Petrus memiliki iman yang teguh dan keyakinan yang sangat kokoh, namun justru takut dan “mulai tenggelam” (Mt 14:30). Ia telah meyakinkan Yesus bahwa dirinya bersedia mengikuti Yesus sampai Dia wafat, tetapi dalam situasi ini keraguan imannya justru menghalanginya. Mengapa Petrus tenggelam saat dia mulai berjalan di atas air? Karena, alih-alih memandang Yesus, si Petrus malah melihat ke laut—dengan dibayangi oleh takhyul yang berlaku—sehingga kehilangan kendali. Keraguanya melemahkan imannya kepada Tuhan. Perlu kita ketahui bahwa dalam kepercayaan kuno bangsa Semitis, lautan diyakini sebagai tempat berdiamnya makluk-makluk jahat dan kerajaan iblis yang selalu mengancam kehidupan manusia.

Selanjutnya, kepercayaan yang teguh kepada Tuhan merupakan fondasi dasar dari keberimanan kita. Namun, ketika kita ragu dan gagal menyadari bahwa Tuhan mesti menjadi pusat kehidupan iman kita, badai dan pencobaan menghampiri; di situlah kehidupan kita benar-benar terguncang dan pastinya tenggelam. Memang si Petrus memiliki keberanian ketika matanya tertuju pada Yesus, tetapi kandas ketika dia berfokus pada dirinya sendiri.

Akan tetapi, melalui peristiwa “berjalan di atas air” (Mt 14:25), Yesus mengingatkan kita bahwa Tuhan sejatinya selalu ada dan menyertai kita—dalam seluruh situasi kehidupan kita—baik dalam suka maupun dalam duka. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus menang atas kuasa kejahatan dan kematian, yang mengancam dan berusaha menghancurkan kita. Bukankah keberadaan kita juga seperti kapal yang rapuh, diguncang ombak yang melintasi lautan kehidupan dan berharap mencapai tepian yang dituju?

Melalui Yesus, Tuhan yang luar biasa di hadapan semua ciptaan, sekarang tampil dengan suara lembut dan penuh kasih: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat 14:27). Tuhan tidak ingin menakut-nakuti siapa pun, tetapi Dia selalu memberi kita keyakinan. Yesus melakukan hal yang sama ketika para murid-Nya diliputi ketakutan karena badai angin sakal. Dia membuat diri-Nya dikenal sebagai seorang yang dengan-Nya dia telah berbagi sukacita kehidupan. Yesus menampilkan diri-Nya sebagai Tuhan, sebagai “Aku”. Kehadiran Yesus yang penuh kasih mestinya mampu menenangkan semua badai yang mengguncangkan jiwa dan kehidupan kita.

Tak dapat disangkali bahwa teater kehidupan manusia masih saja menjadi seperti lautan yang didominasi oleh kekuatan jahat dan badai mematikan. Sekalipun kekuatan-kekuatan itu masih memiliki pengaruh tertentu untuk menggoda kita, mestinya selalu yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Ia yang berlimpah kasih setia-Nya selalu ada, mendampingi dan menguatkan kita. Sejatinya, pengaruh buruk memiliki kuasa dan berhasil menggoda kita selama diberi ruang gerak dan selama iman kita kepada Penyelenggaraan Ilahi tidak kokoh dan lemah tak berdaya. Sebagaimana kita melanjutkan perziarahan hidup kita, biarlah pandangan kita terus tertuju kepada Tuhan. Kadang akan ada jalan yang akan membawa kita pada kesesatan; tetapi dengan mengarahkan pandangan kita kepada Yesus, kita tidak akan pernah tersesat.

Akhirnya, dalam doa dan berkat Urbi et Orbi pada tanggal 27 Maret 2020 lalu, Paus Fransiskus menasehati kita bahwa: “Kita tidak bisa sendirian; jika hanya diri kita sendiri (perahu) kita tenggelam: kita membutuhkan Tuhan seperti para navigator kuno membutuhkan bintang-bintang. Marilah kita mengundang Yesus ke dalam perahu kehidupan kita. Mari kita serahkan ketakutan kita kepadaNya sehingga Dia bisa menaklukkan berbagai ketakutan itu. Seperti para murid, kita akan mengalami bahwa bersama Yesus di atas perahu, perahu kita tidak akan karam. Sebab inilah kekuatan Tuhan Allah: mengubah segala sesuatu yang terjadi pada kita menjadi hal yang baik, bahkan sekalipun hal yang buruk. Dia membawa kedamaian dalam badai hidup kita, karena bersama Tuhan hidup tidak pernah mati.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s