Cerpen

Tangisan Sang Perantau

untuk sesama saudara-saudariku yang bekerja di luar negeri Di beranda, pada suatu keremangan senja. Ketika desir angin sepoi menusuk pori, kutermangu dalam sepi yang paling gigil. Ditemani sebatang rokok, dua potong ubi rebus dan secangkir kopi hangat. Kopi itu adalah kopi kiriman ibu yang aku terima empat bulan lalu. Harumnya membuat aku teringat akan senyum… Continue reading Tangisan Sang Perantau

Cerpen

Apakah Mondo Masih Jauh?

Jurnalisme Sastrawi: Sebuah Catatan Perjalanan Ke Mondo-Paroki Nggela Pada Pekan Suci 2010    Oleh: Yandri Capestrano dan Gust Kn Akhirnya, dua mobil yang ditumpangi rombongan itupun meninggalkan Puncak Scalabrini. Ketika itu hari masih pagi. Keheningan jadi hilang terhanyut deru mobil dan gelak tawa para penumpang. Dan keberangkatan itu, tepatnya terjadi pada tanggal 31 Maret 2010. Keberangktan itu merupakan… Continue reading Apakah Mondo Masih Jauh?

Cerpen

Menunggu Cerpen

  “Apa? Kau sedang menuliskan satu cerpen untuk aku?” “Ya, aku buatkan cerpen itu untukmu. Demi Tuhan. Hanya untuk kamu.” “Baiklah. Aku akan menunggu cerpenmu itu. Tapi…” “Apa kau tak yakin dengan janjiku? Demi Tuhan. Janji adalah utang.” *** Kepadanya seorang penulis pernah menjanjikan sepotong cerpen; dia menunggu hingga Desember menggerimis. Dia tetap setia menunggu.… Continue reading Menunggu Cerpen